Detective Pen Karya Siswa MAN 2 Kudus, Raih Juara 2 LIPI National Young Inventors Award 2020

(Jurnalpantura.id)

Mendeteksi makanan yang mengandung bahan – bahan yang berbahaya bagi kesehatan, sekarang lebih mudah.
Bahan makanan yang berbahaya seperti Borax, Formalin, hingga Pewarna Sintetis oleh Dua pelajar MAN 2 Kudus cukup di deteksi melalui Bolpoin.

Bolpoin tersebut diberi nama Detective Pen,yang berhasil menyabet juara kedua di ajang National Young Inventors Award 2020 (NYIA) yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan diumumkan pada 19 November 2020 lalu.

Detective pen dibuat oleh dua siswa MAN 2 Kudus bernama Ginaris Sekar Arum Pinasti dan Almas Fauziyah. Keduanya merupakan siswi kelas XI jurusan matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Almas Fauziyah mengatakan detective pen tersebut, dibuat dari ekstrak kulit buah naga yang digunakan untuk mendeteksi kandungan formalin, ekstrak ubi ungu yang digunakan untuk mendeteksi borax, dan HCL (Asam Klorida) yang digunakan untuk mendeteksi pewarna sintetis.

“Jadi, bahan bahan tersebut kami masukan kedalam refil bolpoin berisi empat. Tiga refill diisi bahan – bahan tersebut dan memodifikasi ujung bolpoin, agar cairan bisa keluar. Sedangkan satu refil tetap pada fungsinya untuk menulis. Jadi tidak menghilangkan fungsi dari bolpoin itu sendiri,” katanya.

Cara kerjanya, lanjut Almas, jika ada makanan yang diindikasi memiliki kandungan borax, formalin, atapun pewarna sintetis. Pengguna bisa menekan refill bolpoin yang dibutuhkan sesuai fungsinya dan mencampurkan di campurkan ke sampel makanan tersebut.

“Detektor borax (refill ekstrak ubi ungu), jika warna ungu berubah menjadi hijau berati makanan tersebut mengandung borax. Untuk detektor formalin (refill ekstrak kulit buah naga), warnanya akan memudar jika makanan mengandung formalin. Dan detektor pewarna sintentis juga hampir sama dengan warna yang berubah dari warna sebelumnya,” jelasnya.

Sementara Ginaris Sekar Arum Pinasti menceritakan, Detective pen tersebut, dibuat lantaran sebelumnya mereka menemui makanan yang warnanya terlalu pekat seperti ada penggunaan bahan pewarna sintetis.

“Setelah itu kami ingin tahu apa ada kandungan pewarna sintetis atau tidak didalamnya. Lalu kami mencari tes kit pendeteksi di e- commerce ternyata harganya cukup mahal. Waktu itu satu zat adiktif harganya Rp 200 ribu,” katanya

Kemudian, mereka berdua pun mencari alternatif dengan membaca beberapa jurnal ilmiah dan menemukan informas jikai ada bahan alami yang bisa mendeteksi zat – zat berbaya dalam makanan.

“Setelah itu kami membuat detective pen itu selama dua pekan, dengan menggunakan bolpoin empat warna. Biaya produksinya itu per satu bolpoin, habis sekitar Rp 10.100. Kami pun berencana mematenkan dan memproduksinya secara masal, agar bisa bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Sementara, Guru Pembimbing Riset Widayato berharap dengan adanya detective pen tersebut zat – zat berbahaya yang terkandung dalam makanan bisa terdeteksi sedini mungkin. Terlebih, detective pen juga dari alat yang sangat familiar digunakan oleh masyarakat.

“Alhamdulillah karya tersebut bisa menjadi juara dua dan sangat membanggakan bagi sekolah kami. Karena ini juara, tahun depan berhak mengikuti kejuaraan international yang akan diselenggarakan di Rusia. Dan kami juga akan memacu siswa untuk bisa mengembangkannya lagi, semisal dengan teknologi sensor,” tandasnya.

5/5 (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *