MAN 2 Kudus
News

MAN 2 Kudus Adakan Kunjungan Silaturahmi ke Bali Bina Insani Tabanan, Gali Nilai Toleransi dan Pendidikan Karakter

Bali – Dalam semangat mempererat ukhuwah Islamiyah dan menggali praktik pendidikan karakter yang berlandaskan toleransi beragama, rombongan dari MAN 2 Kudus melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Bali Bina Insani, Tabanan, Bali, pada Minggu (24/8). Kunjungan ini merupakan bagian dari program “Kurikulum Cinta”, yang menekankan pentingnya membangun kasih sayang, toleransi, dan pemahaman lintas perbedaan dalam kehidupan beragama.

Rombongan yang berjumlah sembilan orang ini dipimpin oleh perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Bapak Machrusun, dan disambut hangat oleh pengurus pondok, Ustaz Muhammad Torichan AI.

Dalam sambutannya, Pak Machrusun menyampaikan apresiasi mendalam atas eksistensi Bali Bina Insani yang terus mampu menanamkan nilai-nilai keislaman di tengah keberagaman masyarakat Bali. “Saya terharu dan bangga, karena Bina Insani mampu tampil membawa warna kebaikan dan terus berjihad di tengah keragaman yang menjadi ciri khas negeri ini,” ujar beliau.

Beliau juga menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan. Ia mengatakan bahwa silaturahmi ini bukan hanya sebagai bentuk kunjungan biasa, namun menjadi sarana mempererat tali persaudaraan sesama muslim. “Rasulullah mengibaratkan umat Islam seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Hikmah dari silaturahmi ini semoga dapat memperluas rezeki, mempermudah urusan, dan membuka pintu keberkahan lainnya,” tutur beliau.

Ia juga menambahkan, baik MAN 2 Kudus maupun Bali Bina Insani memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam membimbing generasi muda, baik melalui jalur pendidikan formal maupun non-formal. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di era digital seperti sekarang, di mana lembaga pendidikan harus cermat dan bijak dalam merespons perkembangan teknologi.

Salah satu tantangan yang menarik perhatian adalah kebijakan Bali Bina Insani dalam membatasi penggunaan teknologi di lingkungan pesantren. Para santri tidak diperkenankan membawa ponsel atau alat elektronik, sebagai upaya menjaga fokus dan akhlak para santri dari pengaruh luar yang negatif.

“Ini menjadi dilema sekaligus tantangan besar. Di satu sisi, teknologi adalah keniscayaan zaman, namun di sisi lain, jika tidak dikontrol dengan baik, bisa menjadi bumerang bagi pembentukan karakter anak,” ujar beliau

Pihak Bali Bina Insani sendiri memiliki sistem boarding yang ketat dan disiplin. Santri tinggal secara penuh (mukim), dan tidak menerima sistem pulang-pergi. Aturan ketat juga diterapkan dalam izin keluar, yang harus melewati beberapa lapis persetujuan, serta kunjungan dari orang tua yang baru diperbolehkan setelah 40 hari pertama.

Penguatan karakter menjadi fokus utama pondok ini, serupa dengan pondok pesantren tradisional lainnya. Sistem pengawasan 24 jam serta keterlibatan masyarakat sekitar menjadi kunci sukses dalam menciptakan lingkungan yang kondusif dan penuh keberkahan. “Jika ada santri yang mencoba kabur, masyarakat sekitar justru membantu menangkap dan mengembalikan ke pondok. Ini menunjukkan adanya kepedulian bersama,” ujar Ustaz Torichan.

Menariknya, Presiden Joko Widodo pernah mengutip keberadaan pondok ini dalam Bali Democracy Forum 2016, sebagai contoh nyata harmoni dan toleransi. “Tanpa nilai toleransi yang tinggi, bagaimana mungkin sebuah pondok pesantren dapat hidup tenang dan nyaman di tengah masyarakat mayoritas yang beragama Hindu,” ujar Presiden kala itu.



Kunjungan ini diakhiri dengan foto bersama dan tukar cinderamata.

Diharapkan, silaturahmi ini menjadi awal dari kerja sama berkelanjutan dalam membangun generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.

5/5 (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *